Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

READING: Re-Branding Bimbingan dan Konseling Rholas

Pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan zaman, dan sekolah berfungsi sebagai rumah kedua bagi siswa dalam membentuk karakter serta kepribadian mereka. Dalam proses ini, guru Bimbingan dan Konseling (BK) memegang peran strategis sebagai pendamping yang memahami kebutuhan dan tantangan siswa. Namun, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang memiliki persepsi negatif terhadap guru BK dan cenderung melihat mereka sebagai “polisi sekolah” yang bertugas menegakkan aturan dan memberi hukuman. Pandangan tersebut muncul akibat kurangnya pendekatan personal dan komunikasi yang efektif, sehingga siswa merasa enggan untuk terbuka dan tidak nyaman ketika berinteraksi di ruang BK.

Di sisi lain, peran guru BK saat ini telah berkembang menjadi fasilitator yang membantu siswa menggali potensi diri, mengatasi masalah pribadi maupun akademik, serta mendukung kesejahteraan emosional mereka. Sayangnya, hambatan seperti ketidakterbukaan siswa dan minimnya pemahaman mengenai fungsi BK masih menjadi tantangan. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan upaya untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara guru BK dan siswa. Salah satu solusi yang diinisiasi adalah melakukan re-branding layanan BK melalui media sosial Instagram dengan menghadirkan konten psikoedukasi interaktif, dokumentasi kegiatan sekolah, dan konten kreatif bersama siswa, guna mengubah persepsi negatif menjadi lebih positif dan menghadirkan layanan BK yang lebih menarik serta relevan bagi kebutuhan siswa masa kini.

Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki stigma negatif siswa dan kurangnya pengetahuan terkait fungsi terhadap Bimbingan dan Konseling SMPN 12 Surabaya berupa pembuatan konten psikoedukasi melalui media sosial Instagram dengan siswa sebagai talent video dan konten diangkat dari tren media sosial dan dinamika siswa. Selain psikoedukasi, kami juga menawarkan kolom curhat online untuk menjangkau siswa yang kesulitan untuk menggunakan layanan konseling konvensional. Upaya terakhir sebagai langkah preventif terhadap kesehatan mental yang rentan terjadi pada remaja, pembuatan situs google dapat dijadikan sebagai langkah solutif untuk membantu guru BK menyebarluaskan informasi layanan dengan mudah dan membantu siswa serta orang tua dalam menggunakan layanan bimbingan dan konseling SMPN 12 Surabaya.

Re-branding layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di SMPN 12 Surabaya dilakukan melalui penyebaran psikoedukasi harian yang disesuaikan dengan tren serta dinamika yang dekat dengan kehidupan siswa, kemudian diadaptasi dan dimodifikasi agar tetap mengandung unsur edukatif sekaligus menarik perhatian. Psikoedukasi ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan, pemahaman, serta upaya preventif terkait kesehatan mental. Selain itu, pemanfaatan platform Instagram menjadi strategi pendekatan layanan BK untuk menjangkau siswa secara lebih luas dan membangun kedekatan, sehingga diharapkan mampu mengubah stigma BK dari “polisi siswa” menjadi “teman siswa”. Sebagai bentuk inovasi layanan, dikembangkan kolom curhat daring “Teman Yapping” untuk memudahkan siswa mengakses layanan secara ramah pengguna dan optimal, serta pembuatan situs berbasis Google yang menyediakan informasi layanan BK SMPN 12 Surabaya dan materi Psychological First Aid (PFA) agar siswa dan orang tua memperoleh informasi secara komprehensif.

Program re-branding layanan BK di SMPN 12 Surabaya diharapkan memberikan sejumlah dampak positif terhadap siswa, guru, dan lingkungan sekolah. Dengan konten psikoedukasi yang menarik, layanan curhat daring, serta pengembangan situs BK, siswa dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental, perencanaan akademik, dan strategi menghadapi masalah pribadi. Pemahaman ini dapat membantu siswa lebih terbuka dan berani untuk bercerita, yang mampu mengurangi tekanan psikologis. Dampak ini sejalan dengan SDG’s 3 yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan. Layanan BK yang berbasis digital juga bisa diakses dengan mudah, tidak peduli gender siswa itu. Dengan cara ini, hambatan adanya stereotip sosial bisa diminimalisir. Dampak ini mendukung pencapaian SDG’s 5, yaitu kesetaraan gender.

Program ini juga diharapkan membantu mengurangi ketimpangan dalam pemanfaatan layanan sekolah. Platform digital membantu siswa dengan latar belakang sosial maupun kemampuan komunikasi yang berbeda mendapatkan informasi dan dukungan psikologis dengan lebih mudah. Hal ini mendukung SDG 10 yaitu Pengurangan Ketimpangan. Program ini juga mendukung tujuan SDG’s 17, yaitu Partnerships for the Goals, karena menjadi sarana kolaborasi bagi sekolah, guru BK, siswa, orang tua, dan bahkan pihak luar untuk bersama-sama mencapai tujuan pendidikan dan kesehatan mental siswa. Dengan menggunakan media sosial Instagram dan situs layanan BK, informasi tentang kegiatan dan layanan BK dapat disampaikan secara luas dan menciptakan ruang interaksi baru yang lebih terbuka bagi semua pihak.