Kebutuhan layanan psikologi yang semakin luas menuntut pendidikan tinggi untuk mempersiapkan psikolog dengan fondasi keilmuan yang kuat, pengalaman yang beragam, serta kemampuan mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan. Isu tersebut dibahas dalam Talk Show “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” yang diselenggarakan Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Psikologi Jawa Timur (Forkom Jatim) AP2TPI Wilayah Jawa Timur bersama Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Minggu (20/9/2026).
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga turut berkontribusi melalui dua Guru Besarnya, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog dan Prof. Seger Handoyo, Psikolog. Prof. Suryanto menekankan pentingnya penguatan kompetensi sejak jenjang sarjana hingga pendidikan profesi. Fondasi keilmuan psikologi serta pemahaman mengenai batas kompetensi diperlukan agar calon psikolog siap menghadapi beragam kebutuhan masyarakat secara profesional. Sementara itu, Prof. Seger menyoroti semakin luasnya kontribusi psikologi di dunia kerja. Psikolog tidak hanya berperan dalam rekrutmen dan pengembangan sumber daya manusia, tetapi juga dalam mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan di organisasi.
Diskusi juga menunjukkan bahwa kompetensi psikologi dibutuhkan di berbagai sektor, seperti layanan kesehatan, sekolah, organisasi, pelayanan keluarga, hingga institusi negara. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan pengguna lulusan menjadi penting agar pendidikan psikologi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan SDG 3: Good Health and Well-Being melalui penguatan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis serta SDG 4: Quality Education melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi calon psikolog.







