Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Artikel ini adalah repost dari: Gelar Sarjana di Tengah Ketidakpastian – TIMES Indonesia

Oleh: Dr. Wiwin Hendriani, S.Psi., M.Si., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Penulis Buku “Resiliensi Psikologis”.

Ada masa ketika toga adalah tiket emas. Begitu topi wisuda dilempar ke udara, pintu kantor konon akan terbuka, kursi empuk telah disediakan, dan masa depan tampak lurus seperti rel kereta.

SURABAYA – Ada masa ketika toga adalah tiket emas. Begitu topi wisuda dilempar ke udara, pintu kantor konon akan terbuka, kursi empuk telah disediakan, dan masa depan tampak lurus seperti rel kereta. Kini, pemandangan itu lebih mirip foto lama yang mulai pudar warnanya. Di banyak kota, ribuan sarjana berjalan membawa map lamaran seperti membawa payung di tengah kemarau: siap, tetapi tak tahu kapan hujan kesempatan turun.

Meningkatnya jumlah lulusan S1 dan S2 yang belum terserap kerja formal bukan lagi gejala musiman. Ia telah menjadi lanskap baru dunia kerja. Pasar tenaga kerja berubah menjadi samudra yang ombaknya tak bisa ditebak, sementara kampus masih sering mengajarkan cara berenang di kolam renang. Lulusan disiapkan untuk stabilitas, padahal yang mereka hadapi justru ketidakpastian.

Di titik inilah persoalan tidak cukup diselesaikan dengan menambah sertifikat, kursus daring, atau tumpukan hard skill. Semua itu penting, tetapi sering kali tidak cukup. Yang justru menentukan apakah seseorang tenggelam atau bertahan mengapung adalah daya lentur batinnya. Ketangguhan psikologis kini menjadi mata uang baru, lebih berharga daripada sekadar transkrip nilai.

Bagi banyak lulusan, masa tunggu kerja bukan hanya soal dompet yang menipis, tetapi juga tentang harga diri yang tergerus pelan-pelan. Setiap pertanyaan, “Sudah kerja di mana?” bisa terasa seperti jarum kecil yang menusuk ego. 

Gelar akademik yang dulu dibanggakan mendadak terasa seperti papan nama tanpa bangunan di belakangnya. Di sinilah krisis sering bermula: ketika identitas diri disandarkan sepenuhnya pada status pekerjaan.

Padahal, nilai manusia tidak pernah identik dengan kartu nama. Tidak bekerja formal bukanlah vonis kegagalan, melainkan sebuah persimpangan. Namun, persimpangan sering membuat orang panik karena tidak ada papan petunjuk yang jelas. Mereka berdiri lama, menatap kanan-kiri, takut salah melangkah, sementara waktu terus berjalan.

Dunia rekrutmen sendiri kerap terasa seperti lorong sunyi. Lamaran dikirim, tetapi balasan tak datang. Wawancara dilalui, hasilnya menggantung. Penolakan jarang disertai penjelasan. Dalam situasi seperti ini, jiwa mudah lelah. Harapan naik turun seperti grafik saham. Tanpa ketangguhan psikologis, seseorang bisa berubah dari pejuang optimis menjadi pengumpul kekecewaan.

Maka, yang perlu dilatih bukan hanya cara menjawab soal tes, tetapi juga cara berdamai dengan penolakan. Kegagalan tidak boleh dibaca sebagai label permanen, melainkan catatan sementara. Hidup, seperti mesin pencari, bekerja dengan banyak percobaan. Satu hasil buruk tidak pernah mewakili keseluruhan cerita.

Lebih dari itu, lulusan hari ini perlu belajar menyiapkan lebih dari satu peta hidup. Menggantungkan seluruh harapan pada satu jalur kerja formal ibarat menaruh semua telur dalam satu keranjang di tengah jalan berbatu. Kerja proyek, usaha kecil, dunia digital, atau aktivitas komunitas bukan rencana kelas dua. Ia adalah bentuk adaptasi yang sah dan bermartabat.

Ilmu pun perlu dimaknai ulang. Pengetahuan tidak selalu harus mengenakan seragam kantor. Ia bisa hadir sebagai pendamping UMKM, penggerak literasi, pengelola komunitas, penulis lepas, atau pengajar informal. Ketika ilmu tetap mengalir dalam bentuk manfaat, jiwa akan lebih tahan terhadap guncangan.

Namun, menuntut lulusan tangguh sendirian juga tidak adil. Kampus tidak boleh lepas tangan setelah wisuda. Selama ini, pendidikan tinggi terlalu sibuk memoles kemampuan teknis, tetapi sering lupa melatih otot batin mahasiswanya. Padahal, dunia pasca-kampus adalah arena maraton, bukan sprint.

Keterampilan mengelola stres, menata ekspektasi, mengambil keputusan di tengah kabut, serta menerima ketidakpastian seharusnya diajarkan seperti mata kuliah wajib kehidupan. Bukan sebagai seminar motivasi sekali datang, lalu hilang, tetapi sebagai proses yang menyatu dalam pembelajaran.

Kampus juga perlu berhenti menjual satu model sukses. Hidup tidak selalu bergerak lurus dari kuliah–kerja–mapan. Ada yang berbelok, tersesat sebentar, lalu menemukan jalan baru. Ada yang memutar jauh, tetapi justru tiba di tempat yang lebih tepat. Semua itu pantas dihargai.

Pendampingan pasca-lulus juga penting. Wisuda seharusnya bukan garis putus, melainkan tanda koma. Layanan konseling karier, mentoring alumni, dan ruang diskusi tentang kegagalan perlu menjadi bagian dari tanggung jawab moral institusi pendidikan.

Lebih dari itu, kampus seharusnya menjadi laboratorium keberanian: tempat mahasiswa belajar mencoba, jatuh, bangun, lalu mencoba lagi tanpa dipermalukan. Dari ruang aman inilah lahir generasi yang tidak mudah rapuh ketika realitas menampar lebih keras daripada teori.

Dunia kerja memang tidak lagi ramah pada kepastian. Ia bergerak seperti pasir: bergeser pelan, tetapi sulit digenggam. Dalam situasi seperti ini, gelar akademik hanyalah tiket masuk, bukan jaminan tempat duduk. Yang menentukan apakah seseorang bertahan adalah kemampuannya menata ulang diri ketika rencana runtuh.

Ketika gelar tak lagi menjamin kerja, manusia dipaksa menemukan kembali arti bertahan. Ketangguhan psikologis menjadi jangkar agar hidup tidak hanyut, agar ilmu tidak berubah menjadi beban, dan agar harapan tetap punya alamat untuk pulang.