Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyelenggarakan forum akademik internasional “Psychological Talk Series 3” secara daring pada Selasa, 12 Mei 2026, pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Forum ini secara khusus menyoroti urgensi intervensi kesehatan mental dan dukungan psikososial (MHPSS) dalam konteks mitigasi serta kesiapsiagaan menghadapi bencana. Penyelenggaraan kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi transfer pengetahuan lintas negara guna memperkuat kerangka teoritis dan pemahaman praksis dalam merancang intervensi psikologis komunitas yang responsif dan tepat guna pada situasi darurat.
Diskusi keilmuan ini menghadirkan dua pakar yang memberikan tinjauan komprehensif dari perspektif global maupun lokal. Dr. Claire Leppold dari University of Melbourne membuka sesi dengan menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam kebijakan psikososial, disertai studi kasus implementasi program MHPSS di wilayah terdampak krisis. Pemaparan tersebut kemudian dikontekstualisasikan untuk wilayah Indonesia oleh akademisi Fakultas Psikologi UNAIR, Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S.Psi., M.Sc., yang menyoroti strategi promosi kesehatan mental melalui program pengurangan risiko bencana berbasis pemberdayaan komunitas lokal.
Rangkaian pemaparan materi dari kedua pakar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang melibatkan sivitas akademika UNAIR serta partisipan umum. Para peserta antusias mengajukan berbagai pertanyaan kritis seputar tantangan implementasi program di lapangan. Tanggapan dari kedua narasumber sukses menghadirkan perspektif yang saling melengkapi, memadukan kebijakan global dengan strategi lokalisasi program sehingga memperkaya wawasan peserta terkait manajemen krisis dan resiliensi komunitas.
Lebih dari sekadar ruang diskusi, inisiatif akademik ini merupakan bentuk nyata komitmen Fakultas Psikologi UNAIR dalam mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Fokus acara pada perlindungan dan promosi kesehatan mental masyarakat terdampak bencana berkontribusi langsung pada pencapaian Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3). Selain itu, sinergi kepakaran antara akademisi Australia dan Indonesia ini menjadi wujud nyata dari Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17) dalam merumuskan solusi kolaboratif atas berbagai tantangan kemanusiaan







