PT Inspirasien Srikandi Indonesia (Biro Psikologi Inspirasien No. 0080/SV/HIMPSI-DIY/XII/2024) memiliki komunitas yang beranggotakan pasien penyakit kronis dan caregiver, di mana sebagian besar caregiver yang terlibat merupakan caregiver informal yang menjalankan peran perawatan tanpa imbalan finansial dan pelatihan formal. Caregiver informal memegang peran penting dalam mendampingi pasien penyakit kronis, lansia, maupun individu dengan keterbatasan fisik, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dalam pemberian dukungan emosional, sosial, dan spiritual. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa caregiver informal di Indonesia masih rentan mengalami beban pengasuhan, tekanan emosional, serta kelelahan fisik dan psikologis yang dapat menurunkan kualitas hidup mereka.
Kedekatan emosional dengan pasien, meskipun menjadi kekuatan dalam proses perawatan, sering kali juga menjadi sumber beban karena caregiver kesulitan menetapkan batas diri, menjalankan peran tanpa jadwal yang jelas, serta minim dukungan sosial. Hingga saat ini, terdapat kebutuhan untuk mengembangkan asesmen yang lebih terstruktur dalam memetakan kesiapan dan kondisi psikologis caregiver informal di lingkungan Inspirasien guna mendukung pendampingan yang lebih tepat sasaran. Oleh karena itu, diperlukan asesmen kesiapan caregiver sebagai upaya untuk membantu caregiver memahami kondisi dirinya, mengidentifikasi kebutuhan nyata, serta memperkuat dukungan yang selaras dengan proses pemulihan pasien.
Dalam mendukung penyusunan dasar pengembangan Asesmen Kesiapan Caregiver Informal, tim magang PT Inspirasien Srikandi Indonesia mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran dan observasi lapangan selama periode magang berlangsung. Kegiatan tersebut meliputi partisipasi dalam program Psychological First Aid: Pertolongan Pertama untuk Membantu Proses Pulih yang difasilitasi oleh psikolog klinis Inspirasien yang berfokus pada pemahaman konsep pertolongan awal psikologis non-klinis, prinsip look, listen, and link, serta pemahaman kesehatan mental sebagai kondisi yang dapat berubah-ubah. Selain itu, tim juga terlibat dalam kegiatan RAISE yang diselenggarakan di RS JIH dan RS Soerojo, berupa seminar kesehatan, skrining medis, serta sesi berbagi pengalaman bersama pasien penyakit kronis dan caregiver, yang memberikan gambaran langsung mengenai tantangan psikologis dan kebutuhan dukungan pada konteks layanan kesehatan.
Untuk memperkaya perspektif mengenai peran caregiver informal, tim melakukan kunjungan ke Gedung Tulip RSUP Dr. Sardjito, yang memungkinkan mahasiswa mengamati secara langsung proses pendampingan pasien kanker dan tumor, serta dinamika relasi antara pasien, caregiver, dan tenaga kesehatan. Seluruh rangkaian kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa magang psikologi dengan pendampingan psikolog dan praktisi terkait, sehingga tim memperoleh gambaran langsung dari lapangan yang sangat membantu dalam menyusun asesmen yang tidak hanya teoretis, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan caregiver informal.
Tim Inspirasien melaksanakan kegiatan asesmen kesiapan caregiver informal dengan melibatkan kader-kader Desa Donoharjo, Sleman (14/12). Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan tingkat kesiapan, pemahaman, serta kebutuhan kader dalam menjalankan peran pendampingan kesehatan di masyarakat. Sebanyak 101 kader berpartisipasi aktif dalam pengisian asesmen, yang berlangsung dalam suasana antusias, partisipatif, dan penuh semangat. Tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pembekalan berupa seminar dan pelatihan pendampingan kesehatan non-profesional yang diselenggarakan oleh Tim Inspirasien. Materi yang diberikan dirancang selaras dengan instrumen asesmen, sehingga dapat memperkuat pemahaman kader mengenai peran caregiver informal, batasan peran, serta keterampilan dasar dalam memberikan dukungan kesehatan psikososial di lingkungan masyarakat. Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan kader memperoleh wawasan dan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan. Hasil asesmen selanjutnya akan dianalisis secara komprehensif sebagai dasar penyusunan rekomendasi program penguatan kapasitas caregiver informal yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan komunitas.
Pengembangan Asesmen Kesiapan Caregiver Informal oleh tim Inspirasien memberikan dampak signifikan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan individu yang menjadi caregiver informal serta memberikan perawatan kepada keluarganya. Hal tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 3, yaitu Good Health and Well-being. Kehadiran instrumen ini diharapkan mampu meminimalkan risiko kelelahan psikologis dan stres yang dialami caregiver informal sehingga kualitas perawatan dapat terjaga secara berkelanjutan.
Dengan adanya instrumen asesmen yang terstruktur dan berbasis psikologi, caregiver informaldari berbagai latar belakang sosial memperoleh kesempatan yang lebih setara untuk mendapatkan pemetaan kebutuhan dan rekomendasi intervensi sehingga mendukung SDGs poin 10 Reduced Inequalities. Lebih lanjut, kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan dunia industri sosial melalui kegiatan magang ini mencerminkan implementasi nyata SDGs poin 17 Partnerships for the Goals, di mana sinergi lintas sektor menghasilkan inovasi asesmen yang aplikatif, berkelanjutan, dan berorientasi pada dampak sosial. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal pengembangan program dan intervensi lanjutan yang selaras dengan pencapaian SDGs serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra sosial.







