Kesehatan mental remaja di Indonesia kini menjadi isu yang semakin mendesak untuk ditangani. Berdasarkan data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sebanyak 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental yang memerlukan perhatian serius. Di Surabaya, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) menghadapi tantangan dalam memberikan layanan konseling dan asesmen kesehatan mental keluarga. Salah satu kendala utama adalah rendahnya responsivitas layanan WhatsApp akibat keterbatasan jumlah admin yang tidak sebanding dengan tingginya volume pesan masuk dari masyarakat. Selain itu, sistem asesmen awal yang masih konvensional menyulitkan proses identifikasi masalah secara cepat dan terstruktur. Banyak keluarga juga masih enggan mencari bantuan profesional karena stigma sosial dan ketidaktahuan mengenai cara mengakses layanan yang tersedia. Kondisi ini menunjukkan perlunya inovasi sistem layanan berbasis digital yang dapat mempermudah akses masyarakat, meningkatkan efisiensi asesmen awal, dan memberikan psikoedukasi yang tepat sasaran kepada keluarga yang membutuhkan.
Berdasarkan hasil observasi selama pelaksanaan kegiatan magang di PUSPAGA Surabaya, kami berdiskusi dan sepakat untuk membuat asesmen digital berupa chatbot PusBuddy. Chatbot PusBuddy bekerja otomatis melalui 8 pertanyaan pemantik terkait kesehatan mental anak dan pola asuh orang tua dan klien akan merespon pertanyaan tersebut secara sistematis melalui WhatsApp chatbot. Chatbot PusBuddy ini terhubung dengan Google Form yang berperan untuk mengidentifikasi lebih lanjut permasalahan dan melakukan intervensi awal berdasarkan hasil laporan keluhan klien. Psikoedukasi keluarga dilaksanakan secara online melalui Whatsapp dan email bagi klien yang melaporkan isunya. Kumpulan cerita anonim yang dikirim dari klien akan dievaluasi untuk menentukan materi psikoedukasi secara umum yang diberikan melalui publikasi Instagram maupun brosur fisik. Target peserta psikoedukasi ini adalah keluarga inti berisi orang tua dan anak remaja. Psikoedukasi ini berperan untuk meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya peran serta pengaruh mereka terhadap perkembangan mental anak. Psikoedukasi keluarga ini akan menghadirkan narasumber relawan dari psikolog PUSPAGA yang akan mengisi materi psikoedukasi melalui Instagram reels dan live Instagram.
Pelaksanaan kegiatan magang di PUSPAGA Surabaya berfokus pada pengembangan asesmen digital melalui chatbot PusBuddy sebagai respon atas kebutuhan layanan keluarga dan anak. Proses kegiatan dimulai dari analisis kebutuhan di lapangan, yang menemukan rendahnya responsivitas layanan WhatsApp serta dominasi kasus remaja dengan masalah psikososial. Berdasarkan temuan tersebut, tim merancang alur asesmen interaktif menggunakan WhatsApp chatbot yang terhubung dengan Google Form sebagai instrumen utama. Chatbot menyajikan delapan pertanyaan pemantik terkait isu kesehatan mental anak dan keluarga, lalu mengarahkan pengguna untuk mengisi asesmen psikologis. Hasil asesmen ditinjau oleh operator, dilanjutkan dengan pemberian psikoedukasi melalui WhatsApp dan email, serta rujukan konseling ke psikolog PUSPAGA. Selain itu, pengguna juga diajak memberikan evaluasi kepuasan layanan dan berbagi cerita anonim yang kemudian diolah menjadi materi psikoedukasi untuk publikasi di Instagram maupun brosur fisik. Tujuan utama kegiatan ini adalah menghadirkan layanan asesmen yang lebih terstruktur, responsif, dan mudah diakses, sehingga mampu meningkatkan literasi kesehatan mental serta mendukung terciptanya keluarga yang harmonis.
Program inovasi PusBuddy memberikan dampak positif kepada masyarakat dengan membantu keluarga merasakan bahwa suara mereka penting dan bahwa kesehatan mental bukan lagi hal yang tabu. Melalui asesmen digital yang cepat dan responsif, keluarga dapat mengenali tanda‑tanda stres, kecemasan, dan pola asuh yang berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis anak, sekaligus mendapatkan arahan awal yang tepat tanpa harus menunggu lama untuk akses layanan profesional. Hal Ini sejalan dengan poin ketiga SDGs yang menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan holistik bagi semua usia, termasuk remaja.
Melalui materi psikoedukasi yang disampaikan secara luas dan terbuka seperti melalui akun sosial media dan brosur, PusBuddy juga membantu mengurangi stigma seputar isu kesehatan mental dan meningkatkan literasi emosional orang tua sehingga mendorong poin kelima SDGs dengan memastikan orang tua dari berbagai latar dapat memahami dan responsif terhadap kebutuhan psikologis anak tanpa adanya diskriminasi. Selain itu, akses layanan yang lebih mudah melalui WhatsApp chatbot membantu menjembatani kesenjangan layanan psikososial dan mendukung dalam mengurangi kesenjangan pada lingkungan sosial.
Kolaborasi antara Fakultas Psikologi Unair dengan mitra PUSPAGA memperkuat praktik pelayanan psikososial berbasis komunitas dan diharapkan agar inovasi ini tidak hanya meningkatkan literasi dan kesejahteraan psikologis secara langsung, tetapi juga menciptakan pondasi untuk intervensi kesehatan mental digital yang berkelanjutan di masa depan, memperluas jangkauan layanan tanpa mengabaikan nilai‑nilai empati dan keterlibatan keluarga secara aktif.







