Lompat ke konten utama

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Fakultas Psikologi UNAIR Dukung Penguatan Layanan Kesehatan Mental di Puskesmas

Kebutuhan masyarakat akan akses layanan kesehatan mental yang terjangkau di tingkat fasilitas kesehatan (faskes) primer (Puskesmas) saat ini semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, penyelenggara pendidikan tinggi psikologi di seluruh Indonesia menegaskan kesiapan lulusan pendidikan profesi untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa masyarakat di faskes primer bersama tenaga medis lainnya. Isu strategis ini menjadi fokus utama dalam Seminar Nasional F.PSI UI–AP2TPI–HIMPSI berjudul “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” yang diselenggarakan pada Selasa (11/8/2026) di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta.

Kegiatan nasional ini menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. sebagai keynote speaker. Dalam arahannya, Prof. Brian menyoroti data bahwa sekitar 10% dari 7 juta anak Indonesia yang mengikuti screening terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa, di mana 4,4% mengalami kecemasan dan 4,8% mengalami depresi. Oleh karena itu, beliau mendorong perguruan tinggi psikologi untuk terus berkontribusi aktif dalam memperkuat kesehatan mental masyarakat, khususnya bagi generasi muda.

Transformasi Kurikulum dan Integrasi Layanan Primer

Sejak berlakunya UU No. 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi, pendidikan profesi psikologi telah mengalami transformasi kurikulum secara mendasar. Kurikulum program profesi kini dirancang selaras dengan standar layanan primer di Puskesmas, yang mencakup kegiatan promosi kesehatan mental, pencegahan, deteksi dini, hingga intervensi awal (psychological first aid). Selain itu, mahasiswa profesi juga diwajibkan menjalani praktik di empat latar layanan sekaligus, yaitu bidang kesehatan, sekolah, tempat kerja, dan komunitas.

Melalui model pembelajaran terintegrasi ini, para lulusan diharapkan dapat langsung diterjunkan untuk memperkuat ekosistem pelayanan kesehatan primer di berbagai daerah. Kehadiran lulusan profesi psikologi di faskes primer ini menjadi krusial agar penanganan isu kesehatan jiwa tidak lagi hanya bertumpu pada rujukan tingkat lanjut di rumah sakit, melainkan dapat dijangkau masyarakat sejak dini.

Peran Aktif Fakultas Psikologi UNAIR dan Komitmen SDGs

Dalam forum nasional tersebut, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, memegang peran kunci sebagai Moderator pada sesi diskusi panel utama. Diskusi ini menghadirkan jajaran pakar dan pimpinan organisasi, antara lain Dicky C. Pelupessy, Ph.D. (UI), Assoc. Prof. Harry Minas (University of Melbourne), Dr. Retno Hanggarini Ninin, Psikolog (UNPAD), serta Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog (Ketua Umum HIMPSI).

Selama sesi berlangsung, Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog tidak hanya memandu alur diskusi interaktif para narasumber nasional, tetapi juga mengarahkan fokus pembahasan pada isu-isu krusial, mulai dari integrasi lulusan profesi ke dalam sistem kesehatan nasional, kepastian regulasi, hingga peningkatkan kualitas layanan psikologi di masyarakat. Sebagai Dekan Fakultas Psikologi UNAIR yang juga menjabat sebagai Badan Pengurus AP2TPI, beliau menjembatani perspektif akademisi, organisasi profesi (HIMPSI), dan regulasi pemerintah agar perumusan kurikulum pendidikan tinggi psikologi senantiasa relevan dengan kebutuhan riil faskes primer. Keterlibatan aktif beliau dalam mengawal agenda strategis ini mempertegas komitmen Fakultas Psikologi UNAIR untuk terus melahirkan lulusan profesi yang adaptif, kompeten, dan siap berdampak nyata di Puskesmas.

Langkah konkret Fakultas Psikologi UNAIR dalam mendorong kesiapan tenaga psikolog di fasilitas kesehatan primer ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Inisiatif tersebut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being) melalui pemerataan akses layanan kesehatan jiwa masyarakat, serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui penguatan standar kurikulum profesi psikologi yang berdaya saing dan berorientasi pada kebutuhan bangsa.