Lompat ke konten utama

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Generasi Muda Dorong Ketahanan Pangan Nasional Melalui Inovasi Pertanian Berkelanjutan

Mahasiswa lintas perguruan tinggi berhasil menorehkan prestasi dalam ajang “Mandalika Essay Competition 8” yang diselenggarakan oleh Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 16-18 Mei 2026. Tim yang terdiri dari Anantya Rizkya Zavitri dari Program Studi Psikologi Universitas Airlangga dan Izza Alfitra Rahman dari Program Studi Ilmu Hukum Universitas Mataram berhasil meraih Bronze Medal melalui karya esai berjudul “Peran Generasi Muda dalam Menghadapi Tantangan Pangan Nasional melalui Inovasi Pertanian Berkelanjutan untuk Menuju Indonesia Hebat 2035” pada kategori pangan.

Dalam esai tersebut, ketahanan pangan dipandang sebagai fondasi strategis dalam mewujudkan Indonesia Hebat 2035 di tengah berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi, hingga degradasi lingkungan. Ketahanan pangan tidak hanya dimaknai sebagai ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup aksesibilitas, kualitas gizi, keberlanjutan, serta stabilitas sistem pangan nasional dalam jangka panjang. Oleh karena itu, generasi muda dinilai memiliki posisi penting sebagai penggerak transformasi sektor pangan melalui inovasi, teknologi, dan pengembangan pertanian berkelanjutan.

Esai ini juga memberikan evaluasi kritis terhadap implementasi program food estate sebagai salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Meskipun program tersebut memiliki potensi meningkatkan produksi pangan domestik dan mengurangi ketergantungan impor, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pendekatan kebijakan yang bersifat top-down, minimnya keterlibatan masyarakat lokal dan generasi muda, hingga risiko lingkungan akibat alih fungsi lahan dalam skala besar. Karena itu, diperlukan perencanaan yang lebih adaptif dan partisipatif agar kebijakan pangan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selain membahas aspek kebijakan dan teknologi, esai ini turut menyoroti pentingnya pendekatan psikologis dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap isu pangan nasional. Mengacu pada teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, pangan dipandang sebagai kebutuhan fisiologis dasar yang menjadi fondasi stabilitas dan kesejahteraan manusia. Pemenuhan kebutuhan pangan tidak hanya mendukung keberlangsungan hidup secara fisik, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sosial, rasa aman emosional, serta mengurangi berbagai perilaku destruktif akibat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.

Sebagai solusi, tim penulis menghadirkan kerangka inovasi “P-A-N-G-A-N” yang menekankan pemanfaatan teknologi digital, akses pangan inklusif, nilai keberlanjutan, peran generasi muda, adaptasi terhadap tantangan global, serta penguatan nasionalisme pangan. Melalui konsep tersebut, ketahanan pangan dipandang sebagai tanggung jawab kolektif yang memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan generasi muda. Gagasan ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 (Zero Hunger), poin 12 (Responsible Consumption and Production), serta poin 13 (Climate ActionI dalam upaya menciptakan sistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan menuju Indonesia Hebat 2035.