Salah satu kota metropolitan terbesar di Jawa Timur dan pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Kota Surabaya dikenal sebagai kota maju dengan infrastruktur pendidikan yang lengkap dan akses layanan publik yang mendukung. Namun, dibalik kemajuan tersebut, Surabaya masih menghadapi persoalan pendidikan anak. Dari data Kementerian Pendidikan Tahun 2024 menunjukkan bahwa sebanyak 12.517 anak di Surabaya tercatat mengalami putus sekolah. Isu ini menjadi salah satu tantangan sosial yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Setelah terjun langsung ke masyarakat di beberapa kecamatan yang ada di Surabaya untuk melihat data di lapangan, ternyata banyak ditemukan kasus anak putus sekolah dengan latar belakang keluarga yang tidak stabil khususnya anak-anak dari keluarga yang broken home. Ketidakharmonisan relasi orang tua, perceraian, serta lemahnya dukungan emosional dalam pengasuhan menyebabkan anak lebih rentan kehilangan motivasi belajar dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sekolah. Situasi ini menjadi ironi tersendiri di tengah hiruk pikuk Kota Surabaya yang tengah mengupayakan kualitas sumber daya manusia yang unggul sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, memahami dan menangani kasus anak putus sekolah menjadi kebutuhan mendesak agar semua warga Surabaya rata dalam mendapatkan pendidikan dan tidak ada kesenjangan dalam ranah pendidikan.
Melihat kondisi tersebut, kami sebagai magangers Airlangga Psych Internship (API) yang ditempatkan di PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) Surabaya berinisiatif melaksanakan program kegiatan psikoedukasisebagai bentuk intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas keluarga dalam mencegah resiko anak putus sekolah. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 19-25 November 2025 dan ditujukan kepada para pasangan yang memiliki anak balita. Sosialisasi dilakukan di beberapa tempat, yaitu PAUD Mawar Kutisari (Kecamatan Tenggilis Mejoyo), PPT Aster Gundih (Kecamatan Bubutan), PAUD Taman Harapan Bangsa 1 Embong Kaliasin (Kecamatan Genteng), PAUD RW 2 Kelurahan Lidah Wetan (Kecamatan Lakarsantri), serta kelompok ibu-ibu di RW 9 Rangkah (Kecamatan Tambaksari). Seluruh kegiatan ini diisi oleh para fasilitator PUSPAGA dari masing-masing kecamatan secara berkelompok dan bergantian. Dengan penyusunan materi berdasarkan modul dan pembagian peran yang jelas, sehingga kegiatan dapat terstruktur dan dapat dengan mudah dipahami oleh para pasangan yang mengikuti sosialisasi ini.
Kegiatan sosialisasi psikoedukasi ini berlangsung dengan mengikuti rangkaian acara yang telah ditentukan. Acara dimulai dengan pembukaan, pengenalan pembicara, dan pengerjaan pre-test untuk melihat pemahaman awal para orang tua. Setelah itu, para orang tua diberi penjelasan mengenai masalah anak putus sekolah di Kota Surabaya, lalu masuk ke lima materi utama. Materi pertama, membahas tentang peran keluarga sebagai dasar pendidikan anak. Materi kedua, menjelaskan cara memperkuat kapasitas keluarga, seperti membangun interaksi positif, membantu kemandirian anak, dan memanfaatkan program dukungan dari luar, misalnya kelas parenting yang merupakan program dari DP3APPKB. Materi ketiga, berisi strategi mencegah anak putus sekolah. Materi keempat, tentang pola asuh positif melalui studi kasus agar lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi kelima, membahas pentingnya komunikasi efektif dalam keluarga. Setelah semua materi selesai dijelaskan, para orang tua melanjutkan dengan sesi tanya jawab dan kemudian mengerjakan post-test. Kegiatan ini ditutup dengan refleksi singkat dan dokumentasi. Tujuan utama psikoedukasi ini adalah untuk membantu orang tua memahami cara mendukung anak agar tetap bersekolah, serta menciptakan lingkungan keluarga yang hangat dan pola asuh suportif untuk perkembangan anak.
Dampak positif yang dihasilkan dari program Psikoedukasi PINTAR adalah memberikan pemahaman kepada para orang tua, khususnya orang tua dengan anak balita mengenai parenting style yang tepat untuk memperkuat kapasitas keluarga. Program ini tentunya akan berdampak pada berkurangnya angka anak putus sekolah di Surabaya dengan diberikannya strategi preventif berupa sosialisasi interaktif mengenai pola asuh positif bagi orang tua. Selain itu, psikoedukasi PINTAR turut berkontribusi terhadap beberapa SDGs. Lingkungan keluarga yang sehat secara psikologis berperan penting dalam mendukung perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak, sehingga menurunkan risiko munculnya masalah belajar dan adaptasi sekolah di masa depan yang dapat berujung pada putus sekolah. Untuk itu, program ini berkontribusi terhadap SDGs nomor 3 melalui peningkatan pengetahuan orang tua mengenai pola pengasuhan yang pada akhirnya mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis keluarga. Kemudian, program ini juga berkontribusi terhadap SDGs nomor 10 karena memberikan pemahaman bagi orang tua atau keluarga dengan keterbatasan informasi, pendidikan, serta sumber daya sehingga mengurangi terjadinya ketimpangan pendidikan dan angka putus sekolah bagi anak. Terakhir, dengan pelaksanaan yang dilakukan melalui kerja sama antara pihak Puspaga, PAUD, KSH serta orang tua, sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan putus sekolah secara berkelanjutan sesuai dengan SDGs nomor 17.







