Siswa sekolah di SMP Negeri 30 Surabaya sebagai mitra kegiatan menunjukkan sejumlah permasalahan perkembangan yang berkaitan dengan rendahnya pemahaman terhadap diri sendiri, relasi sosial, dan tuntutan akademik. Kondisi ini berdampak pada kemampuan adaptasi siswa dalam berperilaku, berinteraksi dengan lingkungan sosial, serta menjalani proses belajar di sekolah. Hasil asesmen kebutuhan yang dilakukan melalui observasi kelas dan wawancara dengan siswa, guru Bimbingan dan Konseling, serta guru mata pelajaran menunjukkan adanya kesulitan regulasi emosi, pengaruh negatif teman sebaya, rendahnya kesadaran etika dalam pergaulan dan bermedia sosial, serta kecenderungan prokrastinasi akademik. Selain itu, sebagian siswa juga terlibat dalam bentuk kenakalan remaja ringan yang menghambat perkembangan sosial dan akademik mereka. Temuan-temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi psikologis berbasis sekolah yang sistematis dan sesuai dengan karakteristik perkembangan remaja awal.
Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, dilaksanakan Program RISE (Resilience, Identity, Social skills, Education) sebagai bagian dari kegiatan Magang Airlangga Psych Internship yang berlangsung selama 16 pekan dimulai pada 1 September hingga 19 Desember 2025. Program ini merupakan rancangan layanan psikologis berbasis sekolah yang dilaksanakan di SMP Negeri 30 Surabaya. Kegiatan ini diimplementasikan oleh mahasiswa magang Airlangga Psych Internship yang tergabung dalam tim beranggotakan 3 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yakni Fadia Nurtsani Talithazada, Luluh Liu Lituhayu, dan Salman Robith Fachrurrozi dengan pendampingan dan kolaborasi aktif bersama guru Bimbingan dan Konseling. Guru BK dan guru mapel berperan sebagai mitra utama sekaligus narasumber pendukung, baik dalam proses asesmen awal, pelaksanaan program, maupun evaluasi kegiatan, sehingga intervensi yang dirancang selaras dengan kebutuhan nyata siswa dan konteks sekolah.
Pelaksanaan Program RISE dilakukan melalui alur yang runtut dan berbasis asesmen, dimulai dari identifikasi kebutuhan siswa, penentuan core problem, perancangan intervensi, hingga implementasi program. Intervensi dirancang dalam enam topik utama, yaitu mengenal diri dan menggali potensi, pengaruh teman sebaya (peer pressure), kenakalan remaja, etika dalam pergaulan, etika dalam bermedia sosial, serta prokrastinasi akademik. Setiap sesi kegiatan dilaksanakan melalui tahapan pre-test, penyampaian materi, quiz atau games interaktif, refleksi, dan post-test. Pendekatan ini bertujuan untuk tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif siswa, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif, pengalaman belajar yang bermakna, serta penguatan self-awareness, keterampilan sosial, dan keterampilan akademik yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak dari pelaksanaan kegiatan ini terlihat pada meningkatnya pemahaman siswa terhadap diri sendiri, kemampuan berinteraksi secara lebih adaptif dengan lingkungan sosial, serta munculnya sikap akademik yang lebih positif dan bertanggung jawab. Program RISE berkontribusi terhadap pencapaian SDGs Fakultas, khususnya SDGs 3 melalui penguatan kesejahteraan mental dan kemampuan regulasi diri siswa, SDGs 5 melalui peningkatan kesadaran etika dan relasi sosial yang setara, SDGs 10 melalui upaya mengurangi kerentanan dan ketimpangan adaptasi siswa di lingkungan sekolah, serta SDGs 17 melalui kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, SMP Negeri 30 Surabaya, dan institusi pendidikan. Keberlanjutan program diwujudkan melalui penyusunan Modul RISE, Modul Student Engagement, serta pengembangan prototype layanan digital ARISE sebagai inovasi lanjutan dalam mendukung layanan psikologis berbasis sekolah.








