Industri perhotelan sebagai sektor yang berfokus pada pelayanan menuntut karyawan untuk senantiasa menunjukkan sikap profesional di tengah tekanan kerja dan tuntutan emosional yang tinggi. Interaksi yang intens dengan tamu, serta beban kerja yang berkelanjutan, kerap menjadi tantangan bagi karyawan dalam mengelola emosi. Hasil functional assessment yang dilakukan pada Artotel TS Suites Hotel, Kampi Hotel Tunjungan Surabaya, Maxone Hotel Dharmahusada, Midtown Residence Surabaya, dan Mövenpick Hotel Surabaya City menunjukkan adanya kecenderungan Counterproductive Work Behavior (CWB), seperti kebiasaan mengeluh, memandang pekerjaan secara negatif, hingga mengekspresikan ketidakpuasan secara verbal di lingkungan kerja. Apabila tidak ditangani secara tepat, kondisi ini berpotensi mempengaruhi performa karyawan, menciptakan iklim kerja yang kurang kondusif, serta menurunkan kualitas layanan yang diterima oleh tamu.
Menjawab tantangan tersebut, FKPPH Kelompok 2 Program Airlangga Psych Internship (API) merancang kegiatan BEST (Behavior Enhancement, Efficacy Building, and Self-Regulation Training) sebagai bentuk intervensi psikologis di lingkungan kerja. Program BEST dirancang oleh mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Airlangga di bawah supervisi Bu Listyati Setyo Palupi, S.Psi., M.DevPract. Rencananya, FKPPH Kelompok 2 akan menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidang cognitive behavioral therapy dan mindfulness-based intervention untuk membawakan materi dan menuntun proses pelatihan. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengelola distress kerja secara lebih adaptif, serta menumbuhkan perilaku kerja positif yang berkelanjutan guna mendukung kualitas layanan perhotelan.

Program BEST dilaksanakan melalui 12 tahapan intervensi yang dimulai dengan pre-test untuk mengidentifikasi kondisi awal peserta menggunakan Self-Efficacy Scale, Emotional Regulation Questionnaire, dan Counterproductive Work Behavior Checklist. Peserta kemudian mengikuti sesi trust-building dan psikoedukasi untuk memahami hubungan antara stres kerja, persepsi, dan perilaku kontraproduktif. Tahap pelatihan keterampilan mencakup emotional control melalui mindfulness training, self-monitoring, self-evaluation, self-reinforcement, serta self-talk untuk membangun pola pikir yang lebih adaptif. Peserta juga dilatih dalam problem solving dan modifikasi kognitif, kemudian mempraktikkan keterampilan tersebut melalui sesi roleplay. Program ini ditutup dengan refleksi diri dan post-test untuk mengukur keberlanjutan perubahan perilaku yang telah terbentuk.
Program BEST berkontribusi pada pencapaian SDGs poin 3, yaitu Good Health and Well Being dan poin 17, yaitu Partnerships for the Goals. Melalui pelatihan self-efficacy dan regulasi emosi, program ini mendukung karyawan dalam mengatasi stres kerja dengan lebih baik dan mengurangi perilaku kontraproduktif yang dapat merugikan kesehatan mental individu. Program ini juga berkontribusi pada terciptanya lingkungan kerja yang sehat dan produktif, sejalan dengan tujuan SDGs poin 3. Di sisi lain, kolaborasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan hotel-hotel mitra melalui FKPPH menunjukkan implementasi nyata dari realisasi SDGs poin 17, yang menekankan kemitraan strategis antara institusi pendidikan dan sektor industri. Kolaborasi ini memungkinkan transfer pengetahuan dan keterampilan psikologis untuk mengatasi permasalahan nyata di lapangan serta menciptakan peluang untuk penelitian dan pengembangan intervensi yang berkelanjutan di masa yang akan datang.






