Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Artikel ini adalah repost dari: Menumbuhkan Ketangguhan Kerja – TIMES Indonesia

Oleh: Dr. Wiwin Hendriani, S.Psi., M.Si., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Penulis Buku “Resiliensi Psikologis” dan “Parental Resilience”.

SURABAYA – Dalam opini sebelumnya di Times Indonesia (baca: Gelar Sarjana di Tengah Ketidakpastian), telah dibahas bahwa ketangguhan psikologis menjadi bekal kunci bagi lulusan perguruan tinggi untuk menghadapi dunia kerja yang semakin cair, kompetitif, dan tidak pasti.

Individu lulusan dituntut untuk adaptif, sementara institusi pendidikan tinggi perlu melakukan perubahan sistemik agar tidak hanya melahirkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga lentur secara psikologis.

Namun refleksi tentang kesiapan kerja sesungguhnya belum lengkap jika berhenti pada individu dan kampus. Ada satu ruang pembentuk yang perannya sangat mendasar, tetapi kerap luput dari pembahasan, yaitu keluarga dan pola pengasuhan orangtua. Berbagai temuan riset menunjukkan adanya pergeseran pola pengasuhan pada generasi saat ini.

Dengan niat melindungi dan memastikan masa depan anak, banyak keluarga lebih menekankan pencapaian target-target keberhasilan yang terukur: nilai akademik, prestasi, sertifikat, hingga status sekolah dan kampus unggulan. Keberhasilan menjadi sesuatu yang harus diraih sejak dini, sering kali dengan pengawasan dan intervensi orangtua yang sangat intens.

Sayangnya, dalam proses tersebut, pembekalan untuk menghadapi kegagalan, frustrasi, dan ketidakpastian justru sering terabaikan. Anak dibesarkan untuk berhasil, tetapi tidak cukup dilatih untuk gagal dengan sehat. Padahal dunia yang mereka hadapi hari ini dan ke depan adalah dunia yang tidak selalu memberi kepastian, bahkan kepada mereka yang sudah berusaha keras dan berpendidikan tinggi.

Di sinilah muncul paradoks pengasuhan modern: anak tumbuh dalam lingkungan yang semakin protektif, sementara dunia kerja yang menantinya semakin menuntut kemandirian dan daya tahan mental. Banyak anak terbiasa dengan masalah yang segera diselesaikan orang dewasa, ketidaknyamanan yang cepat diredam, serta kegagalan yang segera “diperbaiki”.

Ketika kemudian mereka memasuki masa transisi pasca-kampus seperti menghadapi penolakan kerja, masa tunggu panjang, atau jalur karier yang tidak sesuai harapan, guncangan psikologis menjadi sangat besar.

Kondisi ini bukan semata karena dunia kerja terlalu keras, melainkan karena ketangguhan psikologis tidak dibangun secara memadai sejak awal kehidupan. Ketangguhan bukanlah kemampuan instan yang muncul saat seseorang lulus kuliah atau memasuki dunia kerja. Ia adalah kapasitas yang tumbuh perlahan melalui pengalaman sehari-hari, terutama di dalam keluarga.

Cara orangtua merespons kegagalan anak, memberi ruang bagi anak untuk mencoba dan salah, serta menoleransi proses yang tidak selalu sempurna, merupakan fondasi penting bagi kesiapan psikologis di masa dewasa.

Anak yang terbiasa diajak merefleksikan kesalahan, didorong untuk menyelesaikan masalah sesuai tahap perkembangannya, dan dipercaya untuk bangkit kembali, akan lebih siap menghadapi realitas kerja yang penuh ketidakpastian.

Pengasuhan yang menumbuhkan ketangguhan bukan berarti pengasuhan yang keras atau minim empati. Justru sebaliknya, ia memadukan kehangatan emosional dengan batasan yang jelas, serta kepercayaan pada kapasitas anak. Anak merasa didukung, tetapi tidak diselamatkan dari setiap kesulitan. Mereka belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana, dan itu bukan akhir dari segalanya.

Jika dalam opini sebelumnya telah ditegaskan bahwa individu lulusan dan institusi pendidikan tinggi perlu menyiapkan ketangguhan psikologis secara lebih serius, maka upaya tersebut semestinya berjalan seiring dengan refleksi keluarga. Kampus dapat mengajarkan manajemen stres dan perencanaan hidup, tetapi keluarga adalah ruang pertama tempat anak belajar memaknai gagal, berhasil, dan berjuang.

Tanpa keterlibatan keluarga, upaya penyiapan ketangguhan akan selalu timpang. Individu diminta kuat, kampus didorong adaptif, tetapi keluarga masih memelihara definisi keberhasilan yang sempit dan ekspektasi yang kurang selaras dengan realitas dunia kerja masa kini.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, keluarga tidak cukup hanya bertanya, “anak saya sudah berprestasi apa?”, tetapi juga perlu bertanya lebih dalam, “apakah anak saya cukup tangguh untuk menghadapi dunia yang tidak selalu ramah?”. Ketangguhan psikologis inilah warisan terpenting yang dapat ditanamkan orangtua, jauh sebelum anak memasuki dunia kerja, dan bahkan sebelum mereka memahami arti sebuah gelar.