Sekilas tentang Tes Potensi Akademik (TPA)

June 17, 2013 in Artikel, Artikel Umum by Faculty Ambassador

dv2000012Belakangan ini, sering dibicarakan tentang Tes Potensi Akademik (TPA) di kalangan masyarakat. Rencananya, sistem pendidikan Indonesia khususnya SMP dan SMA akan mengunakan tes ini sebagai salah satu seleksi masuk. Hal ini menimbulkan polemik karena tidak semua orang akrab dengan TPA  dan beberapa orang bahkan cemas akan penerapan sistem ini. Berkenaan dengan dilaksanakannya TPA  ini, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ditunjuk pemerintah Surabaya sebagai penyedia 500 orang tester yang nantinya akan memberi petunjuk kepada siswa dalam tes ini. Pada kesempatan ini, penulis akan sedikit bercerita mengenai seluk beluk TPA; tujuan dari TPA itu sendiri, tester, dan hal-hal lainnya yang terkait dengan TPA ini.

Apa sih TPA itu?

Tes Potensi Akademik atau yang biasa disingkat menjadi TPA merupakan tes yang mengukur kemampuan berpikir siswa, meliputi kemampuan pemahaman dan penalarannya saat ini. Tingkat kemampuan berpikir siswa ditentukan oleh kapasitas berpikir dan pengalamannya di dalam maupun luar sekolah, dan kemampuan berpikir ini berkembang sejak ia lahir hingga saat ini. TPA mengukur kemampuan berpikir siswa dari tiga aspek, yaitu verbal, numerikal, dan figural. Kemampuan verbal merupakan kemampuan pemahaman dan bernalar dengan menggunakan bahasa, kemampuan numerikal merupakan kemampuan pemahaman dan bernalar dengan menggunakan angka, dan kemampuan figural merupakan kemampuan pemahaman dan bernalar dengan menggunakan gambar.

Mengapa TPA dibutuhkan dalam proses seleksi?

TPA bertujuan untuk mengukur kapasitas berpikir siswa, sehingga hasil tes ini dapat memprediksi apakah seorang siswa akan lebih berhasil dalam prestasi belajarnya di jenjang yang lebih tinggi, dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stress dengan tuntutan belajar di sekolah nantinya.

Siswa yang memiliki kemampuan berpikir yang tinggi akan memiliki proses berpikir dan strategi pemecahan masalah yang efektif dan efisien yang membuatnya lebih mudah mempelajari mata pelajaran di sekolah dan menyelesaikan persoalan, sehingga dia tidak mudah untuk mengalami kecemasan dalam belajar dan akan memiliki prestasi belajar yang lebih baik.

Hasil dari nilai TPA dapat pula digunakan sebagai profil kemampuan berfikir siswa (berfikir dengan bahasa, angka, atau gambar) yang dapat dipergunakan oleh guru dan sekolah untuk mengembangkan proses pembelajaran di sekolah tersebut atau membantu siswa secara individual. Sehingga, proses pembelajaran siswa akan lebih efektif dan optimal karena siswa dapat memaksimalkan potensi kemampuan berpikirnya (dengan bahasa, angka, atau gambar) dalam belajar.

Contoh, seorang siswa yang mempunyai profil kemampuan berfikir yang menunjukkan kekuatan kemampuan berfikir dengan gambar dibandingkan dengan kemampuan dalam berfikir bahasa dan angka, maka anak sebaiknya diminta untuk membuat sketsa-sketsa gambar untuk memahami pelajaran yang bermuatan bahasa yang tinggi.  

Apa sih tester itu?

Terkait dengan pengadaan TPA di Surabaya, para mahasiswa Fakultas Psikologi diberi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmunya yakni dengan menjadi tester. Tester berperan sebagai pemberi petunjuk kepada peserta dalam mengerjakan tes. Peran tester tentunya berpengaruh pada hasil pengerjaan TPA oleh siswa, karena jika belum pernah mengikuti TPA sebelumnya, siswa dapat bertanya kepada tester agar ia dapat menerjakan soal dengan tepat.  Menjadi tester tidaklah semudah yang terlihat. Seseorang harus dapat membuat rapport yang baik saat ia menjadi tester. Ia juga harus memiliki kecakapan komunikasi, yakni dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta dapat melafalkan kata dengan baik agar dapat jelas terdengar. Oleh karenanya, kesempatan menjadi tester ini dapat kita jadikan sebagai latihan untuk membuat rapport yang baik dan mengembangkan soft skill kita sebagai calon psikolog nantinya.

 

(BPA/Faculty Ambassador)

avatar by fpsi

Psikologi Mencari Bakat: Sebuah Ajang Unjuk Diri di dalam Perbedaan

April 9, 2013 in Artikel, Artikel Umum by fpsi

 


pmb01

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga mengadakan ajang pencarian bakat yang ditujukan pada anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi se-Jawa Timur. Acara ini diadakan sebagai salah satu bentuk komitmen pengembangan ABK di Jawa Timur oleh Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Tujuan dari acara ini adalah untuk mengapresiasi bakat dari anak berkebutuhan khusus serta memperkenalkan sekolah inklusi kepada masyarakat, khususnya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Selain itu diharapkan pula masyarakat menyadari bahwa terlepas dari perbedaan yang dimiliki, anak berkebutuhan khusus juga memiliki bakat yang tidak kalah hebat dari anak normal lainnya.

Acara yang bertajuk “Psikologi Mencari Bakat” ini cukup menarik banyak minat dari kalangan umum. Setidaknya, terdapat 155 siswa berkebutuhan khusus yang mengikuti acara ini. Dari jumlah tersebut terdapat 68 penampil yang akan berunjuk diri secara solo maupun kelompok. Nantinya, mereka akan menunjukkan bakat mereka seperti bernyanyi, menari, atau membaca puisi di hadapan tiga juri. Para juri dari acara ini merupakan mahasiswa Magister Profesi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga untuk tahap audisi, sedangkan khusus untuk acara final juri-juri terdiri dari dosen, pakar musik, serta pakar inklusi.

pmb02

Adapun dalam acara ini peserta dibagi menjadi 2 kategori; jenjang TK hingga SD dan jenjang SMP hingga SMA. Acara ini sendiri terdiri dari dua tahapan. Tahap pertama, audisi, berlangsung pada Rabu, 3 April 2013 hingga Kamis, 4 April 2013 dan tahap final akan dilangsungkan pada 26 April 2013. Nantinya, acara final akan dibarengi oleh peluncuran CFI (Center For Inclusion), unit terapan baru Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Acara ini cukup menarik antusiasme dari peserta. “Acaranya bagus”, ujar Ardiansyah, salah satu peserta Psikologi Mencari Bakat ini setelah sebelumnya menampilkan bakat membaca puisinya kepada para juri. Selain membaca puisi, ia juga dapat bermain gitar serta bernyanyi. Menurut Ibu Linda, salah satu wali siswa dari Ardiansyah, acara ini sangat bagus karena menurutnya di Surabaya baru pertama kali diadakan acara seperti ini. Sebelumnya ia pernah mengikuti acara serupa namun hanya unjuk bajak dalam bidang atletik saja. Selain itu acara ini dapat menambah kepercayaan diri dari peserta. Ia juga mengharapkan bahwa adanya kelanjutan terhadap acara seperti ini karena acara ini dapat menjadi media untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak berkebutuhan khusus sekolah inklusi juga mempunyai bakat seperti anak lainnya.

 

Oleh Brian P.A (Faculty Ambassador)

 

avatar by fpsi

Tidak Selamanya Diam Itu Emas – Kemampuan Komunikasi yang Baik Sebagai Modal dalam Dunia Kerja

March 26, 2013 in Artikel, Artikel Umum by fpsi

Tidak Selamanya Diam Itu Emas – Kemampuan Komunikasi yang Baik Sebagai Modal dalam Dunia Kerja

seminar01

 

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga bersama Kompas Gramedia mengadakan seminar pembekalan bagi mahasiswa, Kamis (21/03/2013). Acara ini diadakan di Aula Gedung Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya. Acara ini bertujuan untuk membekali para calon wisudawan agar mereka lebih siap mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Acara ini diisi oleh Bapak Rumpoko Hadi, Organizational Development & Talent Managmenet Manager (ODTMM) Kompas Gramedia dan Ibu Hamidah, staf pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga sebagai pemateri.

Read the rest of this entry →