Alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Afiyah Latifah, membuktikan bahwa ilmu psikologi dapat menjadi sarana untuk menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Lulus pada tahun 2000, Afiyah kini berkiprah sebagai terapis wicara, konselor anak berkebutuhan khusus (ABK), sekaligus pemateri dalam berbagai kegiatan edukasi. Selama lebih dari dua dekade, Afiyah juga konsisten dalam mengembangkan layanan terapi yang tidak hanya berorientasi pada penanganan anak berkebutuhan khusus, tetapi juga berupaya untuk memperluas akses layanan bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Perjalanan karier Afiyah dimulai sesaat setelah ia menyelesaikan pendidikan di UNAIR. Pada tahun 2000, ia pernah bekerja sebagai terapis anak berkebutuhan khusus di Jakarta. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan Q-HRD Consulting Surabaya sebagai pegawai. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting hingga pada tahun 2004 ia dipercaya sebagai Penata Konseling Autisme di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan. Pada tahun yang sama, Afiyah kembali mengambil langkah besar dengan mendirikan Mutiara Persona Centra, sebuah lembaga layanan terapi bagi anak berkebutuhan khusus di Balikpapan.
Komitmennya dalam memberikan pelayanan berkualitas semakin berkembang ketika pada tahun 2005 ia menjalin kerja sama dengan PT Badak NGL Bontang untuk mengelola Sekolah Autisme yang diperuntukkan bagi keluarga karyawan perusahaan tersebut. Kesempatan tersebut menjadi salah satu pencapaian yang paling berkesan dalam perjalanan profesionalnya. Di usia 28 tahun, Afiyah berhasil mengelola sebuah lembaga terapi autisme bekerja sama dengan perusahaan BUMN sekaligus memimpin tim yang terdiri atas sepuluh karyawan.
Semangat tersebut terus berlanjut hingga pada tahun 2010 ia mendirikan Rumah Terapi Almas di Sidoarjo yang dirancang dengan biaya yang lebih terjangkau agar semakin banyak masyarakat dapat memperoleh layanan yang dibutuhkan. Afiyah juga terus menghadirkan berbagai inovasi sosial. Saat ini, ia tengah mengembangkan program terapi bagi keluarga dhuafa melalui sistem subsidi silang agar layanan tetap dapat diakses oleh mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Selain itu, ia juga sedang merancang program khitan gratis yang dikhususkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga dhuafa. Upaya edukasi juga dilakukan melalui konten media sosial, webinar gratis, kegiatan berbagi ilmu bersama berbagai lembaga non-profit, hingga penyusunan e-book edukasi dengan harga yang terjangkau.
Berbagai inisiatif tersebut memberikan dampak yang lebih luas, khususnya bagi masyarakat di daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap informasi mengenai anak berkebutuhan khusus. Edukasi yang dilakukan Afiyah membantu masyarakat lebih memahami tanda-tanda keterlambatan perkembangan anak sehingga deteksi dini dapat dilakukan lebih cepat. Kelompok yang paling merasakan manfaat dari kontribusinya adalah keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah yang membutuhkan layanan terapi dan pendampingan secara lebih terjangkau.
Berbagai inisiatif tersebut memberikan dampak yang luas, khususnya bagi masyarakat di daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap informasi mengenai anak berkebutuhan khusus. Upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan layanan kesehatan dan kesejahteraan psikologis, SDG 4 (Quality Education) melalui penyebarluasan edukasi mengenai anak berkebutuhan khusus, serta SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan menghadirkan layanan terapi yang lebih inklusif dan mudah diakses oleh kelompok masyarakat yang kurang mampu.
Afiyah juga mengakui bahwa identitasnya sebagai alumni Universitas Airlangga memberikan nilai tambah dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi maupun lembaga yang ia dirikan. Menurutnya, bekal pendidikan di UNAIR menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya hingga saat ini. “Menjadi alumni UNAIR merupakan nilai lebih yang meningkatkan kepercayaan masyarakat dan klien terhadap diri saya pribadi maupun lembaga yang saya dirikan,” ungkapnya. Kepada mahasiswa dan sesama alumni Universitas Airlangga, ia berpesan untuk senantiasa menjaga nama baik almamater dengan terus meningkatkan kompetensi serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Melalui dedikasi yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade, Afiyah menunjukkan bahwa keberhasilan seorang alumni tidak hanya tercermin dari pencapaian profesional, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan perubahan nyata dan memperluas akses layanan bagi mereka yang paling membutuhkan.






