Dinamika perkuliahan tidak selalu berjalan mulus. Di balik aktivitas akademik dan berbagai kegiatan mahasiswa, terdapat beragam pengalaman yang membentuk cerita tersendiri. Mulai dari persoalan layanan akademik, fasilitas, hingga sarana dan prasarana, setiap pengalaman tersebut menjadi bagian dari aspirasi yang perlu mendapatkan perhatian. Melalui Rumah Cerita, Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM KM dan Komisi II BLM KM Fakultas Psikologi Universitas Airlangga kembali menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan suara dan pengalamannya.
Rumah Cerita bukan sekadar wadah untuk menyampaikan keluhan. Setiap aspirasi yang masuk menjadi bagian dari proses advokasi yang bertujuan untuk membangun lingkungan perkuliahan yang lebih baik. Aspirasi mahasiswa dikumpulkan, dipilah, dan dikategorikan berdasarkan permasalahan yang disampaikan sebelum dibawa ke dalam forum diskusi bersama pihak fakultas. Melalui proses tersebut, setiap cerita diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan solusi yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Memasuki pelaksanaan Vol. 2, Rumah Cerita kembali membuka kesempatan bagi seluruh mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR untuk menyampaikan aspirasi melalui fase Pengumpulan Aspirasi yang dilaksanakan secara daring melalui Google Forms. Mahasiswa dapat menyampaikan kritik, saran, kendala, maupun apresiasi terkait lingkungan perkuliahan. Fase ini menjadi langkah awal untuk menghimpun berbagai perspektif mahasiswa, sekaligus memastikan bahwa setiap suara memiliki ruang untuk disampaikan.
Aspirasi yang telah terkumpul kemudian dibawa ke Forum Advokasi yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026 di Ruang Sidang 1B Fakultas Psikologi UNAIR. Forum ini menghadirkan jajaran Dekanat, kepengurusan program studi, perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), serta Keluarga Mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR. Melalui forum ini, mahasiswa dan pihak fakultas dipertemukan dalam ruang dialog untuk membahas berbagai aspirasi yang telah disampaikan. Diskusi tersebut menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi permasalahan, memperoleh tanggapan, serta mendorong terbentuknya solusi yang dapat ditindaklanjuti.
Sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), Rumah Cerita turut mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif melalui ruang penyampaian aspirasi yang terbuka dan partisipatif. Melalui proses advokasi yang melibatkan mahasiswa dan pihak fakultas, program ini menjadi salah satu upaya untuk membangun komunikasi yang transparan, memperkuat akuntabilitas, serta mendorong terciptanya lingkungan akademik yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, karena setiap cerita layak menjadi bagian dari perubahan.






