Lompat ke konten utama

Faculty of Psychology Universitas Airlangga

Dari Dosen Muda hingga Ketua HIMPSI, Kiprah Alumni UNAIR Prof. Seger Handoyo Memajukan Psikologi Indonesia

Dedikasi terhadap pendidikan dan profesi dapat menjadi awal dari lahirnya perubahan yang berdampak luas bagi masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam perjalanan karier Prof. Dr. Seger Handoyo, Psikolog, alumni Program Studi Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1990. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi di Universitas Airlangga, beliau melanjutkan studi Magister Psikologi di Universitas Indonesia, mengikuti program pelatihan internasional (sandwich program) di Universität Mannheim, Jerman, dan kemudian meraih gelar Doktor Psikologi di Universitas Indonesia. Berbekal perjalanan akademik tersebut, beliau berkembang menjadi akademisi, psikolog, penulis, sekaligus tokoh nasional di bidang Psikologi Industri dan Organisasi. Melalui kiprahnya sebagai mantan Dekan Fakultas Psikologi UNAIR dan Ketua Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Prof. Seger telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan psikologi di Indonesia hingga lahirnya Undang-Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi.

Menariknya, perjalanan Prof. Seger menjadi seorang dosen bukanlah cita-cita yang telah direncanakan sejak awal. Menjelang sidang skripsi, beliau dipanggil oleh almarhum Prof. Dr. Maramis, Ketua Program Studi Psikologi saat itu, yang menanyakan rencana kariernya setelah lulus. Karena belum memiliki gambaran yang pasti, Prof. Maramis memperkenalkan berbagai pilihan profesi yang dapat ditempuh oleh lulusan psikologi, salah satunya menjadi dosen. Dukungan serupa juga datang dari dosen wali sekaligus pembimbing skripsinya, Drs. Jangkung Handoyo, yang mendorong beliau untuk mengabdikan diri di dunia akademik.

“Saya sebenarnya tidak pernah merencanakan menjadi dosen. Justru Prof. Maramis yang membuka pandangan saya bahwa lulusan psikologi memiliki banyak pilihan profesi, termasuk menjadi dosen. Dari situlah perjalanan ini dimulai,” kenangnya.

Setelah menyelesaikan studi sarjana di UNAIR pada tahun 1990, Prof. Seger memulai karier sebagai dosen di almamaternya. Semangat untuk terus mengembangkan kompetensi membawanya melanjutkan pendidikan Magister Psikologi di Universitas Indonesia. Tidak lama setelah itu, beliau memperoleh kesempatan mengikuti program pelatihan selama sepuluh bulan di Jerman bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pengalaman tersebut menjadi titik penting yang memperluas perspektifnya dalam bidang pendidikan, organisasi, dan kepemimpinan.

Sepulang dari Jerman, Prof. Seger dipercaya mengemban berbagai amanah di lingkungan Fakultas Psikologi UNAIR, mulai dari Kepala Bagian Psikologi Umum dan Eksperimen hingga Wakil Dekan. Puncaknya, pada tahun 2007 beliau dipercaya menjadi Dekan Fakultas Psikologi UNAIR selama dua periode hingga tahun 2015.

Di bawah kepemimpinannya, Fakultas Psikologi UNAIR mengalami berbagai pengembangan strategis. Berbagai program studi baru berhasil dibuka, di antaranya Program Doktor (S3), Program Double Degree, serta Magister Terapan. Menurut Prof. Seger, pengembangan tersebut bukan sekadar menambah jumlah program studi, tetapi merupakan upaya meningkatkan kualitas dan daya saing Fakultas Psikologi UNAIR di tingkat nasional maupun internasional.

Selain memperkuat sistem pendidikan, beliau juga memberikan perhatian besar pada pengembangan sumber daya manusia. Banyak alumni terbaik direkrut menjadi dosen dan didorong melanjutkan studi ke berbagai universitas luar negeri melalui program beasiswa. Kini, hasil dari investasi tersebut mulai terlihat melalui hadirnya dosen-dosen Fakultas Psikologi UNAIR dengan latar belakang pendidikan internasional yang turut memperkuat kualitas pembelajaran dan penelitian.

Kontribusi Prof. Seger tidak berhenti di lingkungan kampus. Pada periode 2018–2022, beliau dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Salah satu capaian paling bersejarah selama kepemimpinannya adalah keberhasilan mendorong lahirnya Undang-Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi pada tahun 2022. Regulasi tersebut menjadi tonggak penting karena memberikan kepastian hukum bagi penyelenggaraan pendidikan dan praktik psikologi sekaligus memperkuat perlindungan bagi masyarakat sebagai pengguna layanan psikologi.

“Yang paling membanggakan bagi saya adalah ketika akhirnya Undang-Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi dapat disahkan. Itu merupakan perjuangan panjang yang telah diupayakan selama bertahun-tahun oleh profesi psikologi,” ujarnya.

Hingga saat ini, Prof. Seger tetap aktif berkarya sebagai dosen, psikolog, konsultan organisasi, serta penulis. Melalui buku-buku seperti Psikologi Industri dan Organisasi dan Keterampilan Coaching: Panduan Praktis dengan Pendekatan Psikologi, beliau berupaya menjembatani konsep-konsep akademik dengan kebutuhan praktis di dunia kerja dan pendidikan profesi psikologi. Menurutnya, menulis merupakan salah satu cara agar ilmu pengetahuan terus hidup dan dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

Di akhir wawancara, Prof. Seger menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan alumni Fakultas Psikologi UNAIR agar tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga membangun integritas, kemampuan berpikir sistematis, dan keterampilan interpersonal.

“Mahasiswa perlu fokus mendalami bidang yang diminati, membangun integritas, serta percaya diri. Jangan pernah minder menjadi alumni Psikologi UNAIR. Dengan bekal yang dimiliki, kita mampu bersaing dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat,” tutupnya.

Kisah Prof. Seger Handoyo menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diraih, tetapi juga dari dampak yang ditinggalkan bagi banyak orang. Melalui dedikasinya dalam mengembangkan pendidikan tinggi, memperkuat profesi psikologi, dan menghasilkan berbagai karya ilmiah, beliau telah menjadi inspirasi bahwa alumni UNAIR mampu mengambil peran strategis dalam membangun masa depan bangsa.

Kiprah Prof. Seger Handoyo dalam mengembangkan pendidikan tinggi, memperkuat profesi psikologi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai institusi sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 3 (Good Health and Well-being), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Melalui kontribusinya, beliau menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan, layanan psikologi, dan kemitraan akademik dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.