Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Seminar Departemen dan BEM Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Pada tanggal 23 dan 24 april minggu lalu diselenggarakan bazaar seminar di Fakultas Psikologi UniversitasAirlangga. Acara tersebut diselenggarakan oleh BEM KM Fakultas Psikologi dan berisikan lima seminar. Setiap seminar tentunya memiliki tema dan pembicara yang berbeda dan masing-masing seminar adalah representasi dari empat departemen dan BEM KM yang ada di Fakultas Psikologi UniversitasAirlangga. Jika Anda belum tahu, Fakultas Psikologi UniversitasAirlangga dibagi menjadi empat departemen peminatan untuk memfokuskan mahasiswa dalam memahami beberapa pendekatan yang digunakan untuk mempelajari psikologi. Mereka adalah departemen psikologi perkembangan, psikologi sosial, PIO, dan psikologi klinis. Masing-masing departemen mempelajari psikologi dari sudut pandang yang berbeda dan karena itulah seminar ini diadakan secara terpisah, yaitu untuk mendiskusikan setiap tema dengan pendekatan mereka masing-masing.

 

Departemen Psikologi Pendidikan dan Perkembangan


Education and Developmental

Departemen psikologi perkembangan, psikologi sosial, dan BEM menyelenggarakan seminar mereka pada tanggal 23 April Sabtu kemarin. Departemen psikologi perkembangan mengusung tema “Pengasuhan anak dengan Autism Spectrum Disorder: Kenali Karakteristik dan Optimalkan Potensi” dan mempersembahkan bermacam-macam pembicara dari terapis autism, orang tua yang memiliki anak dengan autism, dan dosen fakultas psikologi sendiri. Seminarnya dimulai dengan penjelasan tentang definisi dari autisme. Autisme adalah gangguan perkembangan pada otak yang menyebabkan kesulitan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial, serta merespon lingkungan secara tepat. Meskipun banyak usaha yang dilakukan untuk mengobati dan merawat penderita autisme, autism sendiri adalah karakteristik yang melekat seumur hidup dan nyatanya tidak bisa disembuhkan. Pemberian obat dan pengasuhan penderita autism tidak bertujuan untuk menghilangkan autism tapi membantu penderita tersebut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Lalu dinyatakan dalam seminar tersebut bahwa autism disebut sebagai gangguan spectrum karena pengaruh autism terhadap seseorang sangatlah beragam.

Anak penyandang autisme biasanya memiliki kepekaan yang tidak biasa pada sensorinya, entah pada pendengarannya, penciuman, penglihatan, vestibular (Kesulitan untuk diam atau tenang), ataupun proprioseptif (membutuhkan tekanan pada bagian tubuh tertentu). Mereka juga cenderung memiliki alergi pada beberapa jenis makanan, jadi sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter yang menangani alergi. Dijelaskan dalam seminar hari itu juga bahwa untuk menangani anak penyandang autisme, tidak hanya peran orang tua dan gurunya yang penting, namun juga peran lingkungan di sekitar anak tersebut. Mereka seharusnya bisa membantu anak penyandang autisme untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Juga disebutkan bahwa terdapat dua pendekatan untuk menangani penyakit autisme, yaitu pendekatan ABA (Applied Behavior Analysis) dan pendekatan yang paling sering digunakan sekarang yakni TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children). Meskipun pendekatan tersebut diaplikasikan di sekolah khusus oleh guru, sangat penting bagi orang tua untuk memahami pendekatan terebut dan mengaplikasikannya di rumah juga.

The Partisipants

Dengan mengikuti seminar departemen psikologi perkembangan, kita tidak hanya akan mendapat pemahaman tentang autism spectrum disorder, tapi kita juga akan mendapat poin ekstra tentang bagaiman menangani anak penyandang autiseme, dan juga tips dan trik yang tidak akan kita dapatkan ditempat lainnya.

 

Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial

Departmen psikologi sosial menyelenggarakan seminar mereka dengan tema “Meningkatkan Kapasitas Psikososial Masyarakat dalam Situasi Krisis”. Seminar dari departemen ini mengundang Drs. Sudaryono., SU, Dra. Woelan Handadari, M.Si, dan bapak Achmad Chusairi, S.Psi., MA sebagai pembicaranya. Masing-masing pembicara akan membicarakan tentang mengenali situasi kritis dan dampak psikososialnya terhadap individu, kesehatan mental dalam konteks krisis dan penangannya, dan juga dampak psikologis jangka panjang pasca-bencana berturut-turut.

Seminar ini diadakan untuk memberi peserta awam pengetahuan tentan situsi krisis dan efek psikososialnya terhadap individu, juga mengenai kesehatan mental dengan konsep dan kemampuan dasar mengenai kesehatan mental dalam konteks krisis. Seminar ini juga memberikan pekerja kesehatan yang awam pengetahuan tentang kesehatan mental untuk melakukan respon ceoat terhadap trauma psikologis dalam keadaan darurat atau krisis; tidak lupa juga membekali peserta dengan kemampuan untuk mengenali dampak psikologis jangka panjang pasca-bencana.

 

Badan Eksekutif Mahasiswa

The Speakers

            Seminar yang diselenggarkan BEM mengangkat tema “DO you belive in common sense?” Seminarnya mendiskusikan tentang bagaimana akhir-akhir ini banyak postingan di internet yang menyebutkan atau menjelaskan hal-hal yang berbau psikologis yang tidak bersumber dengan jelas. Dan juga membahas kecenderungan mereka untuk menggunakan common sense daripada konteks yang ilmiah. Adalah sebuah fakta bahwa banyak masyarakat Indonesia yang sangat tertarik untuk mempelajari karakter dan kepribadian mereka, dan juga Psikologi sangat terkenal sebagai studi yang mempelajari hal-hal tersebut. Fakta tersebut lalu digunakan oleh beberapa orang sebagai jembatan mereka untuk menjadi terkenal, mendapatkan followers di social media, dan bahkan mendapatkan uang dengan memanipulasi pembaca postingan mereka dengan mengatasnamakan penelitian psikologi, meskipun sebenarnya mereka hanya menggunakan common sense atau pengetahuan umum. Masyarakat umum yang tidak tahu akan dengan mdah mempercayai dan bahkan ada yang sampai memiliki perubahan dalam perilaku dan kepribadian setelah membaca postingan tersebut.

Bapak Dimas Aryo Wicaksono, S.Psi., M.Sc. and Ibu Ike Herdiana, M.Psi., Psikolog sebagai dosen Fakultas Psikologi UniversitasAirlangga memiliki pendapat yang sama dalam membahas masalah ini. Mereka menyatkan bahwa dalam membaca artikel dari internet yang mengatas namakan psikologi, kita perlu berhati-hati dan bersikap selektif. Setiap penelitian ataupun kalimat harusnya memiliki sumber yang kredibel dan ditambahi Bu Ike hanya bisa dianggap penelitian yang valid ketika diteliti secara ilmiah dan harus berulang kali dengan objek yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda.

The Speaker

Karena itu, dalam abad ke-21 ini, saat segalanya bisa diakses dengan mudah, kita harusnya bisa lebih selektif dalam menyaring informasi tentang apapun. Jangan percaya pada apapun dengan mudah hanya karena mereka mencatumkan penelitian psikologis, tapi carilah sumber aslinya dan hanya cari informasi yang memiliki dampak yang positif untuk diri Anda.

 

Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental

The Partisipants

            Dihari kedua pada tanggal 24 April minggu kemarin adalah giliran departemen psikologi klinis  dan PIO untuk menyelenggarakan seminar mereka. Kasus pelecehan anak yang sedang marak di Indonesia membuat departemen psikologi klinis mengambil tema “Cegah Kekerasan pada Anak”. Melalui seminar ini, diharapkan masyarakat memiliki pemahaman yang sama tentang penyebab dan dampak dari tindak kekerasan pada anak, serta mendapatkan gambaran mengenai strategi pencegahannya. Seminar ini di pimpin oleh Ibu Margaretha, S.Psi, P.G.Dip.Psych.,M.Sc. dan Dra. Woelan Handadari, M.Si., Psikolog dan dimulai dengan quote “Anak terlahir ke dunia dengan kebutuhan untuk disayangi tanpa kekerasan”. Memang benar, bahkan dari prespektif psikologi sendiri bahwa sangat penting untuk anak-anak diberi kasih sayang dan perasaan memiliki dari orang tua dan lingkungannya. Dan ketika mereka tidak menerima hal-hal tersebut, sangat mungkin akan terjadi penyimpangan dalam perkembangan mental ataupun kepribadian anak.

Akibat yang ditimbulkan dari kekerasan atau pelecehan bisa terjadi dalam jangka panjang, menengah, dan pendek bergantung pada individunya. Kekerasan juga bisa mempengaruhi kondisi psikologi, fisik, dan sosial dari anak, dan sangat disayangkan bahwa pelaku dari kekerasan ini bisa siapa saja yang pernah berinteraksi dengan si anak. Pelaku bisa saja orang tua si anak sendiri, guru, teman, dan siapapun yang berada di lingkungan anak tersebut yang berinteraksi dengan anak tersebut. Tapi juga ada situasi situational dan pilihan untuk pelaku dalam melakukan kekerasan. Situasi situational adalah ketika pelaku awalnyat tidak memiliki ketertarikan seksual terhadap anak-anak tapi situasi-situsi tertentu yang membuat dia melakukan kekerasan. Sedangkan situasi pilihan adalah ketika pelaku sudah memiliki ketertrikan seksual terhadap anak-anak.

The Speaker

Karena pelakunya bisa siapa saja yang ada di lingkungan si anak, sangat penting bagi orang tua, guru, dan orang-orang yang memiliki relasi dengan si anak untuk memahami bagaimana mencegah kekerasan terjadi pada anak mereka, bagaimana menangani masalahnya ketika kekerasan telah terjadi, dan pergi kemana untuk mencari pertolongan, baik ke advokasi hukum atau layanan psikologis. Memahami langkah-langkah tersebut akan membuat orang tua atau guru tetap tenang dan bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin apabila terjadi kekerasan pada anak atau murid mereka. Juga sangat penting bagi orang tua untuk mengajari anak mereka tentang jenis-jenis sentuhan. Apakah sentuhan itu baik, membingungkan, atau jelek; anak harus tahu agar bisa memberikan respon yang sesuai pada setiap sentuhan. Misalnya ketika ada orang asing yang menyentuh mereka di tempat yang tidak pantas disentuh, mereka bisa menangis dan berteriak mencari pertolongan.

Ketika seorang anak yang telah mengalami kekerasan atau pelecehan seksual bisa kembali beradaptasi dengan lingkungannya kembali setelah stress yang ia dapat, maka ia telah berhasil ber-resiliensi. Resiliensi hanya bisa didapat ketika anak yang telah mengalami kekerasan diakui perasaannya, didukung kemampuan pengelolaan dirinya, dan mendapatkan pendampingan pertumbuhan pribadi.

Maka dari itu, pemahaman orang tua dan guru tentang dasar-dasar bagaimana mencegah kekerasan, mengatasinya apabila telah terjadi,  dan bagaimana untuk mendukung anakyang telah mengalami kekerasan untuk move on dan melanjutkan hidup mereka kembali adalah sangat substansial.

 

Departemen Psikologi Industri dan Organisasi (PIO)

The Partisipants

 

Departemen ini menggunakan tema “Strategi jitu menentukan karir Anda” dan mengundang bapak Samian, M.Psi., Psikolog sebagai pembicaranya. Dalam seminar ini, kita diajak mengenali passion dan kelebihan yang kita miliki untuk menentukan pilihan karir yang tepat bagi kita sendiri. Pilihan karir yang sesuai dengan passion  dan keterampilan kita akan membantu kita mengembangkan karir secara optimal.

Bapak Samian menyatakan dalam seminar hari itu bahwa kita harus sudah merencanakan karir yang kita inginkan sebelum mencarinya. Kalimat “biarlah mengalir” harusnya dihapus dari mindset kita, karena akan lebih mudah bagi orang-orang yang sudah merencanakan karir mereka daripada orang-orang yang tidak punya rencana dan masih bingung mencari karir yang diinginkan. Proses menentukan karir juga dijelaskan, yang pertama yaitu dengan menetapkan tujuan karir. Hal tersebut diperlukan karena tujuan karir berbeda-berbeda pada setiap individu, ada yang karena ingin mencari uang, kedudukan, kenyamanan dll. Tahap kedua adalah dengan menegenali minat dan potensi diri, setelah itu eksplorasi karir yang diinginkan. Lalu tahap yang terakhir adalah mengembangkan diri sesuai karir yang kita inginkan. Dalam melakukan proses tersebut, kita akan mengembangkan diri kita menjadi orang yang dibutuhkan dalam karir yang kita pilih.

The Speaker

Dalam pengertian bahwa kita harus menentukan karir yang ingin kita pilih sebelum melakukan yang lain, jangan lupa bahwa kita harus mengikuti keinginan kita. Jangan terpengaruh dengan orang lain tapi pikirkan apakah kita akan bisa nyaman dan produktif dengan memilih karir tersebut. Jika kita mengikuti keinginan kita, kita akan bisa menikmati karir kita dan mengembangkan diri kita dengan nyaman.

Seminar hari itu juga menyediakan sesi tanya jawab selama satu jam, jadi peserta seminar bisa menanyakan apapun yang mereka ingin tanyakan. Terdapat juga para pekerja yang mendatangi seminar hari itu dan mereka mengatakan bahwa seminarnya sangat bermanfaat bagi mereka karena mereka bisa berkonsultasi kepada pembicara dan juga mereka terlihat puas dengan jawaban yang mereka dapatkan. Selain para pekerja, tentu seminar departemen PIO sangat bermanfaat juga bagi para mahasiswa yang datang. Karena mereka bisa mendapatkan tips-tips bagaimana menentukan karir mereka.

(Oleh: Faculty Ambassador)